Kamis, 19 Agustus 2010

Kucing adalah binatang kesayangan Nabi



Diceritakan dalam suatu
kisah, Nabi Muhammad
SAW memiliki seekor
kucing yang diberi nama
Mueeza. Suatu saat,
dikala nabi hendak
mengambil jubahnya, di
temuinya Mueeza
sedang terlelap tidur
dengan santai diatas
jubahnya. Tak ingin
mengganggu hewan
kesayangannya itu, nabi
pun memotong belahan
lengan yang ditiduri
mueeza dari jubahnya.
Ketika Nabi kembali ke
rumah, Muezza
terbangun dan
merunduk kepada
majikannya. Sebgai
balasan, nabi
menyatakan kasih
sayangnya dengan
mengelus lembut ke
badan mungil kucing itu.
Dalam aktivitas lain,
setiap kali Nabi
menerima tamu di
rumahnya, nabi selalu
menggendong mueeza
dan di taruh dipahanya.
Salah satu sifat Mueeza
yang nabi sukai ialah, ia
selalu mengeong ketika
mendengar azan, dan
seolah-olah suaranya
terdengar seperti
mengikuti lantunan
suara adzan. Bahkan
kepada para
sahabatnya, nabi
berpesan untuk
menyayangi kucing
peliharaan layaknya
menyanyangi keluarga
sendiri.
Hukuman bagi mereka
yang menyakiti hewan
lucu ini sangatlah serius,
dalam sebuah hadist
shahih Al bukhori,
dikisahkan tentang
seorang wanita yang
tidak pernah memberi
makan kucingnya, dan
tidak pula melepas
kucingnya untuk
mencari makan sendiri,
Nabi SAW pun
menjelaskan bahwa
hukuman bagi wanita ini
adalah siksa neraka.
Beberapa diantara
orang terdekat nabi
juga memelihara kucing.
Aisyah binti abubakar
shiddiq, istri nabi amat
menyayangi kucing, dan
merasa amat
kehilangan dikala
ditinggal pergi oleh si
kucing. Abdurrahman
bin sakhr al Azdi. diberi
julukan Abu huruyrah
(bapak para kucing), karena
kegemarannya dalam
merawat dan
memelihara berbagai
kucing dirumahnya.

Sisa makanan kucing
hukumnya suci.
Hadis Kabsyah binti Ka
’ b
bin Malik menceritakan
bahwa Abu Qatadah,
mertua Kabsyah, masuk
ke rumahnya lalu ia
menuangkan air untuk
wudhu.
Pada saat itu, datang
seekor kucing yang
ingin minum.
Lantas ia menuangkan
air di bejana sampai
kucing itu minum. Kabsyah berkata,

Perhatikanlah. ” Abu
Qatadah berkata,

Apakah kamu heran ?”
Ia menjawab, “ Ya. ”
Lalu, Abu Qatadah
berkata bahwa Nabi
SAW prnh bersabda,

Kucing itu tidak najis.
Ia binatang yang suka
berkeliling di rumah
(binatang rumahan),

(HR At-Tirmidzi, An-
Nasa
’ i, Abu Dawud, dan
Ibnu Majah).

Diriwayatkan dan Ali bin
Al-Hasan, dan Anas yang
menceritakan bahwa
Nabi Saw pergi ke
Bathhan suatu daerah di
Madinah.
Lalu, beliau berkata,

Ya Anas, tuangkan air
wudhu untukku ke
dalam bejana.

Lalu, Anas menuangkan
air. Ketika sudah
selesai, Nabi menuju
bejana.
Namun, seekor kucing
datang dan menjilati bejana. Melihat itu,
Nabi berhenti sampai
kucing tersebut
berhenti minum lalu
berwudhu.
Nabi ditanya mengenai
kejadian tersebut,
beliau menjawab,
“ Ya
Anas, kucing termasuk
perhiasan rumah
tangga, ia tidak dikotori
sesuatu, bahkan tidak
ada najis.
Diriwayatkan dari
Dawud bin Shalih At-
Tammar dan ibunya
yang menerangkan
bahwa budaknya
memberikan Aisyah
semangkuk bubur.
Namun, ketika ia
sampai di rumah Aisyah,
tenyata Aisyah sedang
shalat. Lalu, ia
memberikan isyarat
untuk menaruhnya.
Sayangnya, setelah
Aisyah menyelesaikan
shalat, ia lupa ada
bubur. Datanglah
seekor kucing, lalu memakan sedikit bubur
tersebut.
Ketika ia melihat bubur
tersebut dimakan
kucing, Aisyah lalu
membersihkan bagian
yang disentuh kucing,
dan Aisyah
memakannya.
Rasulullah Saw
bersabda,
“ Ia tidak
najis. Ia binatang yang
berkeliling.” Aisyah
pernah melihat
Rasulullah Saw
berwudhu dari sisa
jilatan kucing,
(HR AlBaihaqi, Abd Al-
Razzaq, dan Al-
Daruquthni).
Hadis ini diriwayatkari
Malik, Ahmad, dan
imam hadis yang lain.
Oleh karena itu, kucing
adalah binatang, yang
badan, keringat, bekas sisa makanannya suci.

Penghormatan para
tokoh islam terhadap
kucing pasca wafatnya
Nabi SAW.
Dalam buku yang
berjudul Cats of Cairo,
Baybars al zahir,
seorang sultan dari
dinasti mamluk yang
terkenal tegas dan
berani, ternyata sangat
menyayangi kucing.
Bahkan al zahir sengaja
membangun taman-
taman khusus bagi
kucing dan
menyediakan berbagai
jenis makanan
didalamnya.
Baybars Al Zahir, sultan
dinasti mamluk yang
mendirikan taman-
taman untuk kucing
Tradisi ini akhirnya
menjadi adat istiadat di
berbagai kota-kota
besar negara islam.
Hingga saat ini, mulai
dari damaskus, istanbul,
hingga kairo, masih bisa
kita jumpai kucing-
kucing yang berkeliaran
di pojok-pojok masjid
tua dengan berbagai
macam makanan yang
disediakan oleh
penduduk setempat.



(Sumber: kaskus.us ).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar